“Barang siapa yang tidak kuat melawan kelampauan akan hancur” — Gafar
I
Revolusi baru saja berakhir. Seorang mantan pejuang yang kelimpungan menyesuaikan diri dengan situasi pasca-revolusi bertemu pelacur yang merawat sisa-sisa nyala kehidupannya dengan mengkliping iklan-iklan di majalah LIFE. Laila, pelacur itu, tak becus melafalkan nama “LIFE”. Iskandar, mantan pejuang itu, membetulkan pelafalan Laila: “Itu LIFE. Bacanya La-if. Majalah Amerika. Memang mau dibeli semua?”
Scene itu memukau saya. Dengan mengingat konsep “obtuse meaning” yang diperkenalkan Roland Barthes, kombinasi antara “salah pelafalan”, “majalah Amerika”, “perempuan/pelacur yang mengkliping iklan-iklan produk asing”, sampai “mantan pejuang yang gelisah” memberi saya ruang yang lapang untuk menyusun (pem)baca(an)-(pen)tafsir(an) pada film Lewat Djam Malam.
II
Saat pertama kali menonton Lewat Djam Malam, perhatian saya terbetot dengan rentetan kritik sosial yang dihamparkan Usmar Ismail melalui perjumpaan Iskandar dengan situasi pasca-revolusi. Melalui Iskandar, satu per satu situasi pasca-revolusi dijlentrehkan tanpa tedeng aling-aling: korupsi, birokrasi yang lamban, revolusi yang diboncengi oportunisme, militerisme yang merembes pada kehidupan sipil, sampai borjuasi baru yang menikmati kemerdekaan dengan gratis.
Membaca Lewat Djam Malam dari sudut itu pun sebenarnya sudah menghadirkan pengalaman sinematik yang memuaskan. Menakjubkan menyadari Usmar Ismail (dan Asrul Sani sebagai pemilik ide cerita dan penulis skenario) sudah berhasil dengan jitunya memotret Indonesia yang masih belia dan memampangkan potret itu dengan sedemikian rupa sehingga tetap relevan sampai sekarang.
Dalam banyak hal, potret Indonesia dalam Lewat Djam Malam sebenarnya masih sama dengan potret Indonesia kini: korupsi, lambannya birokrasi, militerisme yang masih merembes dalam cara berpikir masyarakat sipil sampai soal borjuasi kelas menengah yang acuh tak acuh.
Itu sebabnya Lewat Djam Malam bisa dibilang karya klasik sekaligus kontemporer.
"Lewat Djam Malam": Ketika Kenyataan Tak Sesuai Harapan
Tampak langkah gontai sesosok pria. Tak lama, langkah gontai berganti langkah cepat, lanjut berlari. Di belakang pria tersebut, serombongan tentara menenteng senapan mengejarnya.
Yang dikejar, terengah, namun terus berlari. Hingga berhenti di depan sebuah rumah. Pria tersebut masuk ke rumah, tergesa. Sang perempuan menoleh gemulai. Dengan air muka khawatir, ia sambut pria tersebut. "Is.." ucapnya.
Itulah adegan prolog film lawas Indonesia besutan Usmar Ismail, Lewat Djam Malam, produksi tahun 1954. Mengisahkan sekelumit persoalan yang melilit sang tokoh utama, Iskandar, yang diperankan apik oleh A.N.Alcaff.
Is, sapaan akrab Iskandar, adalah mantan tentara. Setelah berkubang lama dengan persoalan militer hingga pernah diperintahkan membantai satu keluarga, Is memilih keluar dari tentara atau dia sebut "turun gunung".
Yang dikejar, terengah, namun terus berlari. Hingga berhenti di depan sebuah rumah. Pria tersebut masuk ke rumah, tergesa. Sang perempuan menoleh gemulai. Dengan air muka khawatir, ia sambut pria tersebut. "Is.." ucapnya.
Itulah adegan prolog film lawas Indonesia besutan Usmar Ismail, Lewat Djam Malam, produksi tahun 1954. Mengisahkan sekelumit persoalan yang melilit sang tokoh utama, Iskandar, yang diperankan apik oleh A.N.Alcaff.
Is, sapaan akrab Iskandar, adalah mantan tentara. Setelah berkubang lama dengan persoalan militer hingga pernah diperintahkan membantai satu keluarga, Is memilih keluar dari tentara atau dia sebut "turun gunung".
"Lewat Djam Malam" Recommended Abis!
Tadi malam, ketika stres mentog berjam-jam panjang mantengin tesis udah bingung mau diapakan, seorang teman menyarankan saya untuk take some time off. Nonton mungkin? Melihat jadwal bioskop, film Lewat Djam Malam sudah mulai tayang. Sayapun berangkat.
Saya membeli tiket satu jam sebelum waktu tayang. Ketika menyebutkan film pilihan, mbak penjaga loket bilang “ini filmnya hitam putih pakai subtitle gitu lho, mbak”. Iya nggak papa. Memang film itu yang ingin saya lihat. Rupanya studio masih kosong. Sayapun bebas memilih kursi tengah, posisi favorit. Tiket di tangan. Sembari menanti, saya bertanya-tanya apakah ini saatnya salah satu angan-angan saya jadi nyata: menguasai studio sendirian! Like a boss!! Ahiahiahiahiahiahia……..
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)

