Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

"Lewat Djam Malam": Bukan Film Hantu, Bukan Film Panas

Setelah gagal menonton di TIM, Bekasi, dan di Yogyakarta, saya berhasil juga menjumpai film Lewat Djam Malam ini diputar di XXI CBD Ciledug. “Ini film klasik hitam putih, Kak” begitulah peringatan si mbak penjual karcis supaya saya nantinya tidak kecewa karena membeli tiket untuk film ‘aneh’ ini.

Sampai di dalam hanya ada sepasang lain di pojok atas belakang selain saya dan istri, mereka pun pergi setelah film diputar setengah lebih, mungkin sudah puas pacaran di tempat gelap di bulan puasa pula.

Berkawan dengan Kelampauan lewat "Lewat Djam Malam"

“Film ‘serius’ sering ditinggalkan penonton…”, begitu kalimat yang menggaung di kepala saya waktu berniat menonton “Lewat Djam Malam” (LDM). Begitu tiba tempat pembelian karcis, mata saya tertuju pada layar komputer si kasir. Ada duapuluhan kursi Studio 5 XXI Mal Panakkukang sudah terisi. Lumayanlah, pikir saya, tidak sampai menonton bertiga saja.

Kata ‘serius’ di dalam kalimat tadi bisa saja berarti ‘film drama’, ‘fakir adegan kelahi’, ‘minim adegan tembak-tembakan’, ‘kurang adegan percintaan’, ‘mesti mengerutkan kening’, atau ‘tanpa banyolan’.

Tapi saya yang lama menanggalkan status pelanggan XXI. Setelah empat tahun, LDM-lah yang menyeret saya menjejakkan kaki ke lantai berkarpet jaringan bioskop ini. Itu juga saya baru sadar ketika mau membayar karcis masuk seharga tiga puluh ribu rupiah. Masih terang-benderang di ingatan, terakhir saya menonton film masih membayar lima belas ribu rupiah. Saya lupa judul film terakhir yang saya tonton di bioskop. Bahkan perubahan tipologi “Bioskop 21” menjadi “XXI” pun belakangan saya tahu. Saya segan datang ke bioskop XXI sejak mengenal Amélie (2001) yang diikuti gelombang film-film Eropa, Turki, atau Iran yang sudut pandangnya lebih ‘galak’ dan terasa realistik. Film yang banyak dipertontonkan XXI kebanyakan film buatan Hollywood—gambarnya tak liar dan sudut pandang yang sangat biasa.

Selewat Zaman "Lewat Djam Malam"

Saya belum mendapatkan gambaran bagaimana respon masyarakat, dan media, pada medio 50-an terhadap film Usmar Ismail Lewat Djam Malam. Adakah yang merasa tertampar?

Film ini menampilkan cermin masyarakat Indonesia yang sebagai nasion baru tampak gamang meniti kemerdekaan. Revolusi hanya menjadi jargon, toh nyatanya bagi sebagian orang tak ada perubahan besar.
 Pada tahun edar film itu, 1954 (lima tahun setelah penyerahan kedaultan dari Belanda kepada RI melalui Konferensi Meja Bundar), tentu saja saya belum lahir. Sambil menonton film Usmar (kredit di layar menuliskannya “Usmar Isma’il”) saya mencoba mengingat-ingat beberapa sosok pejuang yang pernah saya kenal sejak saya bocah hingga remaja.

Fragmen revolusi: tak sepenuhnya suci
Dulu saya beroleh kesan mereka, orang-orang sepuh itu, sangat membanggakan masa revolusi dan segala “perdjoangan” bahkan pengorbanan masing-masing. Sebagian dari mereka acap menggerutu bahwa kemerdekaan belum mewujudkan cita-cita berikutnya, yaitu masyarakat adil dan makmur. Nasib diri menjadi contoh terdekat.


"Lewat Djam Malam": Sebuah Rekaman Vulgar

Hari Minggu yang lalu saya memutuskan untuk akhirnya menonton Lewat Djam Malam. Sebuah proyek restorasi yang sayangnya tidak didukung oleh pemerintah Indonesia, tetapi mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah Singapura. Miris. Tapi apa mau dikata. Lebih baik restorasi film ini tetap berjalan daripada harus berlama-lama menunggu pemerintah kita ikut mendukung dalam proyek ini. Lewat Djam Malam diputar pada jam 21.25 WIB. Sama seperti judulnya, sudah lewat jam malam. Menurut saya, terlalu malam untuk diputar pada waktu tersebut. Tak heran, ketika masuk studio, lebih dari setengah kursi penonton tidak terisi. Miris. Lagi.

Film dibuka dengan iringan lagu ‘Sepasang Mata Bola’. Lagu depresif. Diikuti dengan langkah kaki yang menuntun saya untuk mengetahui siapa-siapa saja yang ada di balik layar. Tahun 1954. Tercatat tahun produksi film. Saya menikmati membaca nama-nama di credit-title awal. Meskipun hanya satu orang yang saya tahu, yaitu Usmar Ismail sebagai sutradara film. Menyaksikan sejarah yang lahir kembali diiringi dengan lagu depresif dan langkah kaki yang tak jelas akan kemana, siapa yang tidak akan terbawa ke dalam nelangsanya sendiri?

Adegan awal pertama cukup menjelaskan latar belakang dari judul film. Lewat Djam Malam. Melalui papan besar yang tercatat di ujung jalan, dijelaskan adanya jam malam yang berlaku di Bandung. Pasca-kemerdekaan. Saya sudah dapat membayangkan bahwa film ini seterusnya akan menjelaskan bagaimana sulitnya menembus dimensi baru pasca-kemerdekaan. Yang dulunya perang fisik, kini menjadi perang melawan diri sendiri. Perang untuk mendapatkan kehidupan yang layak setelah habis-habisan mengusir penjajah di tanah air. Alur cerita berjalan seperti yang saya bayangkan. Iskandar, sebagai tokoh utama dari film ini digambarkan sebagai tentara yang baru saja kembali dari medan perang. Mencari rumah sang kekasih yang menunggunya dengan setia. Benar, ini cerita klasik.


Lapisan Pemaknaan dalam "Lewat Djam Malam

“Barang siapa yang tidak kuat melawan kelampauan akan hancur” — Gafar

I

Revolusi baru saja berakhir. Seorang mantan pejuang yang kelimpungan menyesuaikan diri dengan situasi pasca-revolusi bertemu pelacur yang merawat sisa-sisa nyala kehidupannya dengan mengkliping iklan-iklan di majalah LIFE. Laila, pelacur itu, tak becus melafalkan nama “LIFE”. Iskandar, mantan pejuang itu, membetulkan pelafalan Laila: “Itu LIFE. Bacanya La-if. Majalah Amerika. Memang mau dibeli semua?” Scene itu memukau saya. Dengan mengingat konsep “obtuse meaning” yang diperkenalkan Roland Barthes, kombinasi antara “salah pelafalan”, “majalah Amerika”, “perempuan/pelacur yang mengkliping iklan-iklan produk asing”, sampai “mantan pejuang yang gelisah” memberi saya ruang yang lapang untuk menyusun (pem)baca(an)-(pen)tafsir(an) pada film Lewat Djam Malam.

II

Saat pertama kali menonton Lewat Djam Malam, perhatian saya terbetot dengan rentetan kritik sosial yang dihamparkan Usmar Ismail melalui perjumpaan Iskandar dengan situasi pasca-revolusi. Melalui Iskandar, satu per satu situasi pasca-revolusi dijlentrehkan tanpa tedeng aling-aling: korupsi, birokrasi yang lamban, revolusi yang diboncengi oportunisme, militerisme yang merembes pada kehidupan sipil, sampai borjuasi baru yang menikmati kemerdekaan dengan gratis.

Membaca Lewat Djam Malam dari sudut itu pun sebenarnya sudah menghadirkan pengalaman sinematik yang memuaskan. Menakjubkan menyadari Usmar Ismail (dan Asrul Sani sebagai pemilik ide cerita dan penulis skenario) sudah berhasil dengan jitunya memotret Indonesia yang masih belia dan memampangkan potret itu dengan sedemikian rupa sehingga tetap relevan sampai sekarang. Dalam banyak hal, potret Indonesia dalam Lewat Djam Malam sebenarnya masih sama dengan potret Indonesia kini: korupsi, lambannya birokrasi, militerisme yang masih merembes dalam cara berpikir masyarakat sipil sampai soal borjuasi kelas menengah yang acuh tak acuh. Itu sebabnya Lewat Djam Malam bisa dibilang karya klasik sekaligus kontemporer.

"Lewat Djam Malam": Ketika Kenyataan Tak Sesuai Harapan

Tampak langkah gontai sesosok pria. Tak lama, langkah gontai berganti langkah cepat, lanjut berlari. Di belakang pria tersebut, serombongan tentara menenteng senapan mengejarnya.

Yang dikejar, terengah, namun terus berlari. Hingga berhenti di depan sebuah rumah. Pria tersebut masuk ke rumah, tergesa. Sang perempuan menoleh gemulai. Dengan air muka khawatir, ia sambut pria tersebut. "Is.." ucapnya.

Itulah adegan prolog film lawas Indonesia besutan Usmar Ismail, Lewat Djam Malam, produksi tahun 1954. Mengisahkan sekelumit persoalan yang melilit sang tokoh utama, Iskandar, yang diperankan apik oleh A.N.Alcaff.

Is, sapaan akrab Iskandar, adalah mantan tentara. Setelah berkubang lama dengan persoalan militer hingga pernah diperintahkan membantai satu keluarga, Is memilih keluar dari tentara atau dia sebut "turun gunung".

"Lewat Djam Malam" Recommended Abis!


Tadi malam, ketika stres mentog berjam-jam panjang mantengin tesis udah bingung mau diapakan, seorang teman menyarankan saya untuk take some time off. Nonton mungkin? Melihat jadwal bioskop, film Lewat Djam Malam sudah mulai tayang. Sayapun berangkat.

Saya membeli tiket satu jam sebelum waktu tayang. Ketika menyebutkan film pilihan, mbak penjaga loket bilang “ini filmnya hitam putih pakai subtitle gitu lho, mbak”. Iya nggak papa. Memang film itu yang ingin saya lihat. Rupanya studio masih kosong. Sayapun bebas memilih kursi tengah, posisi favorit. Tiket di tangan. Sembari menanti, saya bertanya-tanya apakah ini saatnya salah satu angan-angan saya jadi nyata: menguasai studio sendirian! Like a boss!! Ahiahiahiahiahiahia……..

Wajah Indonesia Dalam Film "Lewat Djam Malam"


Lewat Djam Malam adalah sebuah film yang ditulis oleh Asrul Sani dan disutradarai Usmar Ismail. Film yang diproduksi pada tahun 1954 ini berhasil meraih penghargaan sebagai Film Terbaik FFI pada tahun 1955. Film ini sangat recommended untuk ditonton. Walau hitam putih, kualitas gambar film yang memang sudah direstorasi ini cukup bagus. Mengingat film ini dibuat 58 tahun yang lalu, tentunya teknologi tak sehebat sekarang.

Iskandar (AN Alcaff) adalah mantan mahasiswa sebuah universitas di Bandung yang ikut turun ke medan perang untuk memperjuangkan kemerdekaan. Selama 5 tahun, Norma (Netty Herawati), kekasih Iskandar dengan setia menanti kembalinya orang yang dia sayangi. Sosok Norma sendiri adalah putri seorang terpandang, tinggal di sebuah rumah mewah dan hidup berkecukupan. Sekembalinya Iskandar dari gunung, ia pun menumpang di rumah Norma.

Hari pertamanya di Bandung, Iskandar sudah membuat masalah. Sementara sang kekasih, Norma pergi bersama sang kakak untuk berbelanja keperluan pesta di Braga, Iskandar pergi meninggalkan kantor guberbur tempatnya bekerja menuju tempat kerja Gafar (Awaludin) , sahabat seperjuangan saat di medan perang. Gafar yang lebih dulu kembali ke kota, kini telah menjadi seorang pemborong. Ia membangun gedung sekolah dan perumahan rakyat.

“Lewat Djam Malam” Sebuah Simbol Revolusi


Film Lewat Djam Malam (LDM) bukan film baru, film buatan tahun 1954 yang kemudian berhasil direstorasi oleh dua donatur asing yaitu World Cinema Foundation dan National Museum of Singapore. Film ini mendadak ramai dibicarakan publik penikmat film karena nampaknya baru pertama kali ini ada film Indonesia produksi lama yang sudah usang kemudian direstorasi dengan teknologi canggih menjadi film yang bersih dan layak tayang di layar bioskop moderen. Sebuah revolusi baru sinema Indonesia.

Bagi dunia perfilman Indonesia saat ini, nampaknya LDM memang agak sulit untuk mampu menyelinap diantara film-film “kacangan” yang masih menjual hantu dan erotisme. Jangankan LDM, film-film berkualitas besutan para sineas muda pun masih banyak yang bersusah payah mendapat tempat antrian tayang di gedung-gedung bioskop.

Padahal LDM, sebagai sebuah film buatan tahun 1954, alur ceritanya ternyata masih sangat berkaitan dengan suasana kehidupan masyarakat saat ini. Bercerita tentang sulitnya beradaptasi atas sebuah perubahan yang mendadak (revolusioner). Kisah seorang pejuang yang baru saja kembali dari kemiliteran ke masyarakat, namun mendapat kesulitan menghadapi kenyataan perbedaan cara pandang. Sebagai pejuang, Iskandar (tokoh utama) musti berhadapan dengan kenyataan bahwa masyarakat lebih sibuk menyikapi kemerdekaan dengan cara pesta dan dansa-dansi. Masyarakat sudah melihat hasil kemerdekaan itu adalah semangat mencari uang dan kekayaan. Di sisi lain, cara meraih kekayaannya pun nyaris serabutan dan hantam keromong. Terlebih saat Iskandar tahu bahwa mantan komandannya pun ikut sibuk menumpuk kekayaan dengan cara-cara menjual patriotisme dan nasionalisme.

"Lewat Djam Malam": Sejarah Kegelisahan Bekas Pejuang

“Dalam perjuangan aku biasa tidur di tanah saja. Paling-paling hanya tidur di bangku saja. Kini aku tidur di kasur yang putih bersih.” – Iskandar, Lewat Djam Malam

Banyak yang bisa dibicarakan seusai menonton hasil restorasi Lewat Djam Malam karya Usmar Ismail. Kita bisa membicarakan lika-liku restorasi film hitam putih produksi bersama Perfini dan Persari pada tahun 1954 ini, mulai dari kontak Phillip Cheah dari National Museum of Singapore dengan Lisabona Rahman mewakili Kineforum, gegap gempita penayangan perdananya di Cannes Film Festival, hingga menagih “janji” pemerintah untuk mendukung proyek restorasi berikutnya.

Begitu juga memperbincangkan pentingnya film ini sebagai upaya menemukan kembali jati diri film Indonesia seperti kerap disuarakan oleh JB Kristanto, orang yang kali pertama mengusulkan restorasi film ini. Belum lagi apabila kita membicarakan aspek filmis, seperti penyutradaraan Usmar Ismail yang dipengaruhi oleh Neorealisme Italia dan penulisan naskah modern yang diusung Asrul Sani. Film ini memang sungguh multi-aspek.

Kajian atas Lewat Djam Malam dapat dilakukan dari berbagai sudut pandang. Lewat Djam Malam juga menarik dilihat sebagai dokumen sejarah, terutama apabila dilihat dari titik berdiri kita sekarang. Upaya restorasi yang dilakukan ternyata tidak hanya menjaga warisan budaya visual kita, tetapi lebih dari itu. Ini adalah upaya pelestarian ingatan sejarah, sesuatu yang diangan-angankan Usmar Ismail agar film ini menjadi sumber pengetahuan agar kita mampu menghargai bekas pejuang.

"Lewat Djam Malam": Lewat Sini Menoleh Sejarah untuk Maju ke Depan


Ramai kita dengar Lewat Djam Malam telah selesai direstorasi. Ini adalah kali pertama sebuah film Indonesia mendapat perlakuan istimewa. Tapi apa makna restorasi untuk seorang penggemar film?

Saya cinta film. Lebih spesifik lagi, saya cinta film tua. Definisi film tua di sini adalah film yang diproduksi sebelum tahun 1970, ketika film belum berwarna (masih hitam putih). Menonton DVD film tua membuat saya bisa duduk tenang atau tiduran menyaksikan polah laku orang-orang yang hidup dalam periode sebelum saya lahir. Saya biasa menonton film dengan latar belakang berbagai negara, mulai dari film yang diproduksi oleh studio Hollywood sampai produksi negara kurang populer macam Senegal, Mali atau Suriah. Kualitasnya pun beragam, mulai dari film yang tidak nyaman untuk ditonton mata seperti film eksperimental karya Jack Smith berjudul Flaming Creatures (1963) sampai yang terlihat jernih karena telah direstorasi oleh produsen DVD seperti Criterion.

Setelah direstorasi, film tampak seperti baru saja dirilis. Banyak detil, seperti mimik dan gerak karakter figuran, atau benda mati, menjadi semakin jelas sehingga menambah kenyamanan serta konsentrasi saat menonton. Audio pun ikut direstorasi sehingga kejernihan suara dialog dan suasana dapat membangun atmosfer film.

Mempertimbangkan "Lewat Djam Malam"

“Kembali saja ke hutan atau ke gunung,” lanjut Gunawan ketika mengetahui Iskandar menolak tawaran kerjanya. Iskandar baru saja kembali dari tentara. Tempat di mana dia bisa mengabdi kepada negara, sekaligus meluapkan idealismenya yang tinggi. Gunawan, yang dahulunya adalah pimpinan Iskandar di tentara, kembali menyuruh-nyuruhnya seakan-akan Iskandar memang hanya berharga sebesar orang suruhan.


Lewat Djam Malam memang bukan film paling menghibur yang ada di bioskop tahun ini, tapi bisa saya pastikan, bahwa ini akan menjadi film paling beda di antara yang lainnya. Bahkan ketika ada film ajaib seperti “Mr Bean Kesurupan Depe” bersanding di studio sebelahnya. Wajar, Lewat Djam Malam memang bukan film produksi zaman kita.

Dibuat pada tahun 1954, Lewat Djam Malam adalah proyek ambisius Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik untuk membuktikan, bahwa Indonesia yang baru merdeka, bisa membuat film berkualitas. Awalnya, film ini akan dikirimkan ke Festival Film Asia, namun akhirnya batal dan berakhir merajai Festival Film Indonesia 1955. Karena buruknya perlakuan pemerintah terhadap film-film lama, Lewat Djam Malam pun terkena imbasnya. Seiring dengan waktu, film ini mengalami cacat fisik di mana-mana. Bantuan justru datang dari Singapur, yang menawarkan restorasi film ini. Meskipun hasilnya tidak sempurna, namun sudah layak tonton. Tetap saja, setelah semua yang dilewati, kasus ini makin memperlihatkan buruknya perhatian pemerintah pada kebudayaannya.

Lewat Djam Malam berputar pada Iskandar, yang seperti sudah saya katakan, baru saja keluar dari tentara. Masih terbawa jiwa pejuangnya, Iskandar menyadari bahwa dia belum terbiasa dengan dunia “baru”nya. Diperlihatkan sepanjang film, Iskandar menemui satu-persatu teman lamanya, ditawari pekerjaan, hanya untuk memperjelas ketidakcocokannya dengan dunia. Belum lagi, ternyata selama di tentara, Iskandar memiliki beban yang belum bisa dilepas. Rasa bersalah yang tidak kunjung hilang dari hasil perang. Bersamaan dengan semuanya, Iskandar mencari kejujuran, dan pertemuannya dengan kebohongan dan kelicikan membuatnya dirinya makin bingung.


Perang, Manusia, dan Kemanusiaan

Saat itu tahun 1954. Ketika semangat revolusi masih bergemuruh di mana-mana, ketika dendam atas penjajahan masih membara, ketika luka dan kemarahan akibat agresi militer Belanda masih terasa.

Cinta tanah air dan nasionalisme menjadi paham yang dominan pada masa itu. Penjajah adalah musuh. Tanah air harus kita bela. Korbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Perang adalah demi mempertahankan kedaulatan negara. Propaganda-propaganda nasionalisme hadir dalam berbagai bentuk: pidato pemimpin, surat kabar, buku, hingga karya seni. Kemerdekaan sebagai bangsa dan kedaulatan wilayah menjadi tujuan utama yang dibenarkan oleh nilai-nilai dan moral.

Dalam suasana seperti ini, sutradara Usmar Ismail dan penulis Asrul Sani menghadirkan film Lewat Djam Malam. Sebuah film yang melawan paham-paham yang dominan pada masa itu. Sebuah film yang tak lagi menempatkan perang atas nama nasionalisme sebagai tujuan luhur. Sebaliknya, Lewat Djam Malam justru mempertanyakan bahkan menertawakan kenaifan manusia yang berperang atas nama bangsa dan negara. 

Tidak akan terlalu istimewa jika film dengan ide seperti itu hadir pada masa-masa sekarang ini. Tapi Lewat Djam Malam lahir jauh sebelum ide-ide anti perang menyebar luas. Film ini lahir ketika kolonialisme masih terjadi di banyak negara Asia dan Afrika, ketika Konferensi Asia Afrika masih dalam tahap persiapan kemudian dilaksanakan di Bandung tahun 1955 untuk menyuarakan penghapusan kolonialisme. Bahkan, dua puluh tahun kemudian, Amerika Serikat masih terlibat dalam perang Vietnam. Pada periode saat dan pasca perang Vietnam inilah kemudian di Amerika secara luas timbul perlawanan pada perang. Semangat anti perang hadir dalam buku, musik, dan tentu saja film.



"Lewat Djam Malam": Sebuah Jejak Sejarah


Saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pihak-pihak yang telah terlibat dalam upaya menyelamatkan film ini. Mereka antara lain National Museum of Singapore,  Martin Scorcese yang lewat World Cinema Foundation telah menanggung separuh biaya restorasi ini, Yayasan Konfiden, Sinematek, Kineforum, dan lain-lain  yang telah bekerja keras membuat film ini menjadi “utuh” dan bisa kita nikmati kembali mulai 21 Juni 2012 di beberapa bioskop tanah air.

Saya sempat terharu karena akhirnya berkesempatan menyaksikan film karya Usmar Ismail hasil restorasi ini. Gambarnya yang semula suram, penuh bercak dan “hujan” kini menjadi terang dan bersih. Ya, masih ada sih sedikit “gerimis” di beberapa bagian, tetapi itu sudah jauuuuuh lebih baik daripada sebelum direstorasi.  Suaranya juga menjadi jelas, tidak ada lagi bunyi “kresek kresek”. Oh, seandainya Usmar Ismail atau Asrul Sani masih hidup, mereka pasti akan sesenggukan menyaksikan karya mereka “hidup” kembali.

Saya tidak akan menceritakan sinopsisnya, karena itu bisa dengan mudah kautemukan di internet. Saya lebih suka ngobrolin bahwa film ini adalah semacam arsip sejarah Indonesia tahun 1950-an. Di film ini kita menyaksikan Bandung tempo doeloe dengan Jalan Braga dan Gedung Sate yang terkenal itu. Juga kehidupan masyarakat kita, khususnya golongan menengah atas, yang gemar berpesta layaknya orang Belanda. Lengkap dengan dansa-dansi ala Eropa diselingi lagu “Rasa Sayange” yang menjadi semacam acara berbalas pantun di antara muda-mudinya.

"Lewat Djam Malam": Merdeka Hanya Ilusi Sesaat

Kembali dari medan perang setelah memperjuangkan kemerdekaan tidak semudah mengucapkan ‘Proklamasi’. Itulah yang dirasakan Iskandar (AN Alcaff), mantan pejuang yang kembali ke Bandung. Ia lalu menginap di rumah keluarga tunangannya, Norma (Netty Herawati).

Calon mertua yang bangga akan kedatangan pahlawan ini lalu mencoba menggunakan koneksinya di kantor Gubernur untuk Iskandar agar mendapatkan pekerjaan. Tapi Iskandar yang tampaknya masih dihantui akan masa silam tidak betah barang seharipun di tempat kerja barunya, ia keluar dan kemudian mengunjungi teman-teman seperjuangannya. Ternyata hanya kekecewaan yang ia dapatkan. Gafar (Awaludin) malah sibuk dengan proyek perumahannya sedangkan Gunawan (Rd Ismail) malah semakin pragmatis dan menggunakan statusnya sebagai mantan pejuang untuk kepentingan pribadinya. Sementara itu Puja (Bambang Hermanto) malah menjadi centeng rumah bordil yang gemar beli lotere. Di tempat itulah Iskandar berkenalan dengan Laila (Dhalia), pelacur kelas bawah yang naif dan penuh impian.

"Lewat Djam Malam": Pembatasan Belenggu Pertanyakan Kemerdekaan

Dari waktu ke waktu, industri perfilman Indonesia telah mengalami perkembangan demi perkembangan yang sangat menarik disimak perjalanannya. Salah satu koleksi terpilih untuk direstorasi adalah film garapan Usmar Ismail ini dimana National Museum of Singapore (NMS) bertindak sebagai pemrakarsa kerjasama yang turut melibatkan World Cinema Foundation, Sinematek Indonesia, Yayasan Konfiden dan Kineforum Dewan Kesenian Jakarta. Prosesnya sendiri berlangsung selama lebih kurang 2000 jam dari tahun 2011 lalu hingga bulan Maret 2012 ini di lab L’Immagine Ritrovata - Bologna, Italia.

Adalah Iskandar, mantan pejuang yang kembali ke masyarakat dimana tatanan kehidupan yang ada ternyata sudah jauh berbeda dari bayangannya. Didukung penuh oleh tunangannya Norma untuk memulai hidup baru, Iskandar melamar pekerjaan yang jauh dari harapan. Akhirnya ia menyambangi kawan lamanya, Gafar si kontraktor handal dan Gunawan si pebisnis sukses yang juga menemui jalan buntu. Ditemani bekas anak buahnya Puja yang bertindak sebagai germo Laila, Iskandar mulai memerangi pergolakan batinnya sendiri sekaligus menentukan mana yang benar dan mana yang salah.

"Lewat Djam Malam" Diselamatkan: Masih Mungkin Berharap ke Pemerintah?

Martin Scorsese, sutradara Goodfellas dan Hugo, memuji, "Lewat Djam Malam is revealing."Scorsese, dalam video pengantar pemutaran restorasi Lewat Djam Malam, bersikeras menyebut"Lewat Djam Malam" dan bukannya "After the Curfew", judul Inggris yang lebih mudah di lidahnya. Ia juga benar menyebutkan "Usmar Ismail", sebagai sutradara film itu, walau terpeleset menyebut "Arzil Sani" untuk Asrul Sani sebagai penulis skenario film tersebut. 

Video pengantar dari Scorsese itu diputar pada Senin malam, 18 Mei 2012, pukul 19.00 WIB, di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Jakarta, dalam acara bertajuk "Lewat Djam Malam: Diselamatkan". Lima puluh delapan tahun setelah film itu dibuat,Lewat Djam Malam selesai direstorasi (diperbaiki, disempurnakan kembali). Segera saja, hasil restorasi itu diputar gala dunia, di Festival Film Cannes 2012 pada 17 Mei 2012 lalu. Seperti diungkap Scorsese, yang juga pemrakarsa World Cinema Foundation, Lewat Djam Malam diakui sebagai warisan "sinema dunia".


Kemerdekaan untuk Apa? Dan Siapa?


Akhirnya, film terbaik Bapak Perfilman Indonesia Usmar Ismail, Lewat Djam Malam, selesai direstorasi di Italia dan bisa disaksikan oleh generasi baru penonton bioskop. Tentu ada yang istimewa sampai dua lembaga besar asing, National Museum of Singapore dan World Cinema Foundation yang diketuai Martin Scorsese, antusias membiayai penyelamatan salah satu kekayaan budaya penting Indonesia yang disia-siakan di negerinya sendiri ini.
Film ini diproduksi lebih dari setengah abad lampau (1954), namun masih sangat berharga buat membaca ulang sosiologi kelahiran bangsa baru bernama “Indonesia” sekaligus prototip budaya (pop) serapan yang tumbuh dalam rahimnya: “film Indonesia.” Dua pokok yang belum tuntas dipersoalkan hingga kini. Dengan kata lain, film ini memiliki relevansi kebangsaan dan estetika yang tetap aktual.