Film Spesial 'LEWAT DJAM MALAM' (Usmar Ismail) - 17 Agustus | 20.00WIB di KOMPAS TV
'Film yang berhasil memberikan pengalaman menonton yang hebat, dibuat dengan penuh gairah dan sungguh membuka mata', ujar Martin Scorsese tentang film LEWAT DJAM MALAM.
Film karya Usmar Ismail (sutradara) itu dibuat pada 1954 dan tersimpan di Sinematek Indonesia dalam keadaan rusak. Melalui kerjasama antara Yayasan Konfiden, Sinematek Indonesia, Singapore National Museum dan World Cinema Foundation yang didirikan oleh Martin Scorsese LEWAT DJAM MALAM berhasil diselamatkan melalui proses restorasi di Italia dari Agustus 2011 hingga Maret 2012. Sebelum ditayangkan di Indonesia, film tersebut diputar di Festival Film Cannes dan masuk kategori World Classic Cinema.
Usmar Ismail yang merintis karir di dunia teater mengarahkan akting dengan sangat baik. Filmnya juga menyajikan tata busana, musik tarian, hingga gaya bahasa yang sangat kha di periodenya. LEWAT DJAM MALAM adalah jendela untuk melihat masa lalu Indonesia tapi kontennya tetap relevan di masa kini.
Showing posts with label Berita. Show all posts
Showing posts with label Berita. Show all posts
Sunyinya "Lewat Djam Malam" di Solo
Kembali ke masa pascarevolusi. Inilah nuansa yang menyeruak di film karya sutradara besar Indonesia, Usmar Ismail, Lewat Djam Malam. Film yang diproduksi tahun 1954 ini baru saja direstorasi untuk ditayangkan ulang di bioskop Indonesia. Meski telat hampir dua bulan dibanding premiere di kota-kota lain, Solo akhirnya menayangkan film yang santer disebut sebagai film terbaik Indonesia di masanya ini, Kamis (9/8/2012).
Sayang, antusiasme penonton Solo menyimak film bersejarah itu sangat memprihatinkan. Bila di premiere film Hollywood seperti Amazing Spiderman dan The Dark Knight Rises kursi selalu penuh, Lewat Djam Malam justru sebaliknya. Ketika Solopos.com menonton film ini di Grand 21 Solo Grand Mal (SGM), Kamis malam, hanya delapan bangku yang terisi.
Salah seorang penonton, Hanif, 23, mengaku tertarik melihat film hitam putih itu setelah membaca resensi di internet. Ia penasaran dengan kondisi Indonesia pascarevolusi kemerdekaan. “Film ini Indonesia banget. Bisa menyampaikan transisi masa revolusi ke modern secara gamblang dan apa adanya,” ujar mahasiswa semester akhir UNS ini.
Film yang pernah diputar di Festival Film Cannes 2012 itu berkisah tentang mantan pejuang bernama Iskandar (AN Alcaff). Ia memutuskan keluar dari dinas ketentaraan dan memulai hidup baru sebagai warga sipil di Bandung. Konflik dimulai ketika ia menemukan rekan tentaranya terlibat korupsi yang mengatasnamakan perjuangan mereka.
Dibalut nuansa kelam layaknya film noir, Lewat Djam Malam sukses mengaduk-aduk emosi penonton. Manajer Grand 21 SGM, Sriyono, mengakui animo penonton hari pertama Lewat Djam Malam mengecewakan. Pihaknya menilai keterlambatan film tersebut masuk ke bioskop Solo adalah penyebabnya. “Di bioskop kota-kota besar lain, film ini sudah diputar Juni lalu. Mungkin penonton yang penasaran sudah menyimaknya di Jogja,” ujarnya tentang film yang menyabet penghargaan di Festival Film Indonesia 1955.
Chrisna Chanis Cara/JIBI/SOLOPOS
Sumber: Solopos.com
Sayang, antusiasme penonton Solo menyimak film bersejarah itu sangat memprihatinkan. Bila di premiere film Hollywood seperti Amazing Spiderman dan The Dark Knight Rises kursi selalu penuh, Lewat Djam Malam justru sebaliknya. Ketika Solopos.com menonton film ini di Grand 21 Solo Grand Mal (SGM), Kamis malam, hanya delapan bangku yang terisi.
Salah seorang penonton, Hanif, 23, mengaku tertarik melihat film hitam putih itu setelah membaca resensi di internet. Ia penasaran dengan kondisi Indonesia pascarevolusi kemerdekaan. “Film ini Indonesia banget. Bisa menyampaikan transisi masa revolusi ke modern secara gamblang dan apa adanya,” ujar mahasiswa semester akhir UNS ini.
Film yang pernah diputar di Festival Film Cannes 2012 itu berkisah tentang mantan pejuang bernama Iskandar (AN Alcaff). Ia memutuskan keluar dari dinas ketentaraan dan memulai hidup baru sebagai warga sipil di Bandung. Konflik dimulai ketika ia menemukan rekan tentaranya terlibat korupsi yang mengatasnamakan perjuangan mereka.
Dibalut nuansa kelam layaknya film noir, Lewat Djam Malam sukses mengaduk-aduk emosi penonton. Manajer Grand 21 SGM, Sriyono, mengakui animo penonton hari pertama Lewat Djam Malam mengecewakan. Pihaknya menilai keterlambatan film tersebut masuk ke bioskop Solo adalah penyebabnya. “Di bioskop kota-kota besar lain, film ini sudah diputar Juni lalu. Mungkin penonton yang penasaran sudah menyimaknya di Jogja,” ujarnya tentang film yang menyabet penghargaan di Festival Film Indonesia 1955.
Chrisna Chanis Cara/JIBI/SOLOPOS
Sumber: Solopos.com
Laporan Tentang Persiapan Pembuatan Filem "Lewat Djam Malam"
Pembaca yang membaca harian atau majalah tentu telah mengetahui, bahwa beberapa bulan yang lalu dua perusahaan filem Indonesia Persari dan Perfini telah memulai pembuatan filem Lewat Djam Malam, sebuah filem yang pada awalnya diperuntukkan bagi festival filem Asia di Tokyo tapi karena sesuatu halangan filem itu tidak jadi dikirimkan.
Meskipun sekarang ini filem tersebut tidak lagi dipertunjukkan di bioskop-bioskop, namun para pembahas filem telah menuliskan banyak artikel yang menyinggung filem itu dalam surat kabar-surat kabar, majalah-majalah, dan juga dalam halaman Gelanggang ini kita dapat melihat kutipan-kutipan dari adegan yang terdapat dalam filem. Dalam tulisan-tulisan yang telah saya sebutkan tadi, terbayang semacam harapan atas baiknya filem ini. Hal ini dapat dimengerti karena filem ini tak dimaksudkan hanya untuk memperoleh keuntungan semata –ia tidak dibuat sebagai sebuah filem komersil. Apakah harapan ini kelak akan terpenuhi tidaklah dapat dikatakan sekarang karena sebuah filem baru dapat disebut selesai jika ia telah ditayangkan di atas layar putih depan kita. Biarpun saya telah mendapat kesempatan untuk menonton beberapa potongan adegan yang telah jadi, toh tidaklah berarti hal itu dapat menentuan penghargaan terhadap filem tersebut.
Lewat Djam Malam (1954) Salah-satu-adegan
Apa yang saya tulis di bawah ini adalah hasil dari pelbagai percakapan dengan beberapa tokoh Persari dan Perfini yang terlibat dengan persiapan filem ini. Mula-mula, tulisan ini akan saya diamkan saja sambil menunggu filem itu selesai dibuat. Tapi ada faktor lain yang menyebabkan saya menuliskan tulisan ini –lebih kurang terlepas dari hasil yang dicapai oleh Persari-Perfini dalam filem ini kelak. Sebagai sebuah ‘usaha’ menarik perhatian. Karena dari percakapan yang mereka lakukan dapat kita rasa bagaimana mereka mencoba mencari jalan dan karena dari usaha ini kelihatan bahwa menulis sebuah skrip filem tidaklah mudah dan bahwa membuat sebuah filem yang baik lebih lagi sulit dari itu. Biarpun pada sebuah filem seni biasanya ada tokoh yang ‘mempengaruhi’, suteradaranya atau pengarang ceritanya atau juru kameranya, tapi toh filem adalah hasil dari suatu kerja bersama, sehingga jika salah seorang dari mereka kandas maka filem itu tidak akan sempurna jadinya. Ada seorang seniman mengatakan bahwa untuk sementara ini di Indonesia tidak mungkin membuat filem yang baik jika belum ada seorang editor filem yang betul-betul ‘seniman’.
Keyakinannya ini bukan tidak pada tempatnya, karena sineas Rusia yang terkenal, Pudovkin, telah membuktikan dalam filem dan pemikiran-pemikirannya bahwa em>montase adalah jiwa dari filem. Pada pokoknya seni Pudovkin, juga Eisenstein terletak pada ‘menimbulkan gambar ketiga dari dua gambar tersusun’. Dalam jargon filem hal ini disebut dynamic cutting. Memang benar, bahwa hampir semua filem Indonesia boleh dikatakan tidak di-’edit’ sama sekali, sehingga irama dari filem-filem itu tidak karuan. Tapi, juga seorang editor harus belajar. Dan tiada akan pernah muncul sebuah filem yang baik jika editornya tidak mendapat kesempatan belajar dan melatih diri. Soal ini sudah agak menyimpang sedikit. Kita akan kembali pada pokok asal kita, “sebuah laporan tentang persiapan pembuatan filem Lewat Djam Malam”.
Meskipun sekarang ini filem tersebut tidak lagi dipertunjukkan di bioskop-bioskop, namun para pembahas filem telah menuliskan banyak artikel yang menyinggung filem itu dalam surat kabar-surat kabar, majalah-majalah, dan juga dalam halaman Gelanggang ini kita dapat melihat kutipan-kutipan dari adegan yang terdapat dalam filem. Dalam tulisan-tulisan yang telah saya sebutkan tadi, terbayang semacam harapan atas baiknya filem ini. Hal ini dapat dimengerti karena filem ini tak dimaksudkan hanya untuk memperoleh keuntungan semata –ia tidak dibuat sebagai sebuah filem komersil. Apakah harapan ini kelak akan terpenuhi tidaklah dapat dikatakan sekarang karena sebuah filem baru dapat disebut selesai jika ia telah ditayangkan di atas layar putih depan kita. Biarpun saya telah mendapat kesempatan untuk menonton beberapa potongan adegan yang telah jadi, toh tidaklah berarti hal itu dapat menentuan penghargaan terhadap filem tersebut.
Apa yang saya tulis di bawah ini adalah hasil dari pelbagai percakapan dengan beberapa tokoh Persari dan Perfini yang terlibat dengan persiapan filem ini. Mula-mula, tulisan ini akan saya diamkan saja sambil menunggu filem itu selesai dibuat. Tapi ada faktor lain yang menyebabkan saya menuliskan tulisan ini –lebih kurang terlepas dari hasil yang dicapai oleh Persari-Perfini dalam filem ini kelak. Sebagai sebuah ‘usaha’ menarik perhatian. Karena dari percakapan yang mereka lakukan dapat kita rasa bagaimana mereka mencoba mencari jalan dan karena dari usaha ini kelihatan bahwa menulis sebuah skrip filem tidaklah mudah dan bahwa membuat sebuah filem yang baik lebih lagi sulit dari itu. Biarpun pada sebuah filem seni biasanya ada tokoh yang ‘mempengaruhi’, suteradaranya atau pengarang ceritanya atau juru kameranya, tapi toh filem adalah hasil dari suatu kerja bersama, sehingga jika salah seorang dari mereka kandas maka filem itu tidak akan sempurna jadinya. Ada seorang seniman mengatakan bahwa untuk sementara ini di Indonesia tidak mungkin membuat filem yang baik jika belum ada seorang editor filem yang betul-betul ‘seniman’.
Keyakinannya ini bukan tidak pada tempatnya, karena sineas Rusia yang terkenal, Pudovkin, telah membuktikan dalam filem dan pemikiran-pemikirannya bahwa em>montase adalah jiwa dari filem. Pada pokoknya seni Pudovkin, juga Eisenstein terletak pada ‘menimbulkan gambar ketiga dari dua gambar tersusun’. Dalam jargon filem hal ini disebut dynamic cutting. Memang benar, bahwa hampir semua filem Indonesia boleh dikatakan tidak di-’edit’ sama sekali, sehingga irama dari filem-filem itu tidak karuan. Tapi, juga seorang editor harus belajar. Dan tiada akan pernah muncul sebuah filem yang baik jika editornya tidak mendapat kesempatan belajar dan melatih diri. Soal ini sudah agak menyimpang sedikit. Kita akan kembali pada pokok asal kita, “sebuah laporan tentang persiapan pembuatan filem Lewat Djam Malam”.
Update jumlah penonton 22 Juli: 5.116
Berdasarkan laporan penjualan tiket dari 21 Cineplex dan Blitzmegaplex, sampai tanggal 22 Juli 2012 jumlah penonton film “Lewat Djam Malam” terus bertambah. Di minggu ke-5 ini, film “Lewat Djam Malam” masih diminati masyarakat.
Update jumlah penonton #LewatDjamMalam sampai 22 Juli: 5.116 orang. Siapa belum nonton? (@scriptozoid)
Siapa belum menonton? Tunggu di bioskop terdekat dan jangan lewatkan penayangannya.
Penayangan "Lewat Djam Malam" di Yogya diperpanjang
Kabar baik! Warga kota Yogyakarta dan sekitarnya masih bisa menikmati hasil restorasi "Lewat Djam Malam" karena respon penonton yang cukup meminati film klasik karya Usmar Ismail ini.
Sebagaimana disampaikan Totot Indrarto lewat akun twitternya @pakde perpanjangan masa tayang ini akan berlaku 7 hari ke depan, namun jumlah layar dikurangi hanya tinggal 3 layar saja dari 5 layar sebelumnya.
Terima kasih warga Yogya yang sudah menonton! Bagi yang belum, masih terbuka kesempatan.
Sebagaimana disampaikan Totot Indrarto lewat akun twitternya @pakde perpanjangan masa tayang ini akan berlaku 7 hari ke depan, namun jumlah layar dikurangi hanya tinggal 3 layar saja dari 5 layar sebelumnya.
Terima kasih Jogja, #LewatDjamMalam masih tayang di Studio 21 AmPlaz. Siapa belum nonton? @FilmID_ @scriptozoid @CinemaPoetica
— Totot indrarto (@pakde) July 20, 2012
Terima kasih warga Yogya yang sudah menonton! Bagi yang belum, masih terbuka kesempatan.
Update Jumlah Penonton #LewatDjamMalam: 4.346 orang
Update jumlah penonton film "Lewat Djam Malam" berdasarkan informasi berdasar keterangan Totot Indriarto @pakde. Total sudah sebanyak 4.346 orang menonton film ini di jaringan XXI dan Blitzmegaplex per 15 Juli 2012. Siapa menyusul?
Film masih akan terus beredar di bioskop terdekat, simak terus jadwalnya di blog ini.RALAT: Jumlah penonton #LewatDjamMalam di 21 (3.783) + Blitz (563) = 4.346
— Totot indrarto (@pakde) July 17, 2012
Update Jumlah Penonton "Lewat Djam Malam" per 7 Juli 2012
Ini dia penambahan jumlah penonton film "Lewat Djam Malam" berdasarkan informasi yang disebarkan oleh Film Indonesia (@filmID_) via twitter pada 10 Juli 2012 lalu. Total sudah sebanyak 3.522 orang menonton film ini di jaringan XXI dan Blitzmegaplex per 7 Juli 2012. Siapa menyusul?
Film masih akan terus beredar di bioskop terdekat, simak terus jadwalnya di blog ini.Selama penayangannya di bioskop sejak 21 Juni 2012, hasil restorasi #LewatDjamMalam telah ditonton 3.522 orang. #DataPenonton
— Film Indonesia (@FilmID_) July 10, 2012
"Lewat Djam Malam" di Festival Il Cinema Ritrovato Bologna
Restorasi film Lewat Djam Malam dijadikan studi kasus dalam program pendidikan restorasi film yang diadakan oleh federasi arsip film internasional (FIAF) di Bologna, Italia, pada Sabtu 30 Juni 2012 di Sala Cervi, Fondazione Cineteca di Bologna. Acara ini dilangsungkan sebagai bagian dari Film Restoration Summer School/FIAF Summer School 2012.
Cecilia Cenciarelli, kepala Chaplin Project di arsip film Cineteca di Bologna, bertindak sebagai moderator dalam panel ini dan menyebut proyek restorasi karya Usmar Ismail ini sebagai contoh sempurna kerjasama para pecinta film. ”Proyek restorasi Lewat Djam Malam menunjukkan bahwa para individu pecinta film lintas negara punya kekuatan untuk menggerakkan penyelamatan warisan sinema dunia,” kata Cenciarelli dalam sambutan pembukaannya. Ia juga menegaskan bahwa kasus proyek restorasi ini membuktikan bahwa restorasi film tidak hanya bisa dilakukan oleh institusi arsip pemerintah atau produsen film papan atas, tapi juga oleh sekumpulan pecinta film.
Panel studi kasus restorasi film Lewat Djam Malam diisi oleh Zhang Wenjie (National Museum of Singapore), Lintang Gitomartoyo (Yayasan Konfiden), Lisabona Rahman (mahasiswa preservasi film di Belanda), Douglas Laible (World Cinema Foundation) dan Davide Pozzi (L’immagine Ritrovata). Masing-masing narasumber menceritakan perjalanan proyek restorasi film produksi Indonesia tahun 1954 ini dari berbagai sudut pandang, mulai dari soal jaringan persahabatan para pelakunya, pentingnya proyek ini untuk sejarah sinema dunia, dan aspek teknis restorasi untuk dijadikan contoh bagi para pelaku restorasi film.
Cecilia Cenciarelli, kepala Chaplin Project di arsip film Cineteca di Bologna, bertindak sebagai moderator dalam panel ini dan menyebut proyek restorasi karya Usmar Ismail ini sebagai contoh sempurna kerjasama para pecinta film. ”Proyek restorasi Lewat Djam Malam menunjukkan bahwa para individu pecinta film lintas negara punya kekuatan untuk menggerakkan penyelamatan warisan sinema dunia,” kata Cenciarelli dalam sambutan pembukaannya. Ia juga menegaskan bahwa kasus proyek restorasi ini membuktikan bahwa restorasi film tidak hanya bisa dilakukan oleh institusi arsip pemerintah atau produsen film papan atas, tapi juga oleh sekumpulan pecinta film.
Panel studi kasus restorasi film Lewat Djam Malam diisi oleh Zhang Wenjie (National Museum of Singapore), Lintang Gitomartoyo (Yayasan Konfiden), Lisabona Rahman (mahasiswa preservasi film di Belanda), Douglas Laible (World Cinema Foundation) dan Davide Pozzi (L’immagine Ritrovata). Masing-masing narasumber menceritakan perjalanan proyek restorasi film produksi Indonesia tahun 1954 ini dari berbagai sudut pandang, mulai dari soal jaringan persahabatan para pelakunya, pentingnya proyek ini untuk sejarah sinema dunia, dan aspek teknis restorasi untuk dijadikan contoh bagi para pelaku restorasi film.
Akumulasi Jumlah Penonton "Lewat Djam Malam" (Update 2 Juli 2012)
Sebagaimana dikabarkan oleh kritikus film Totot Indrarto lewat akun twitternya, jumlah penonton film "Lewat Djam Malam" dari jaringan XXI (21 Cineplex) sudah diumumkan mencapai 2.204 penonton.
Ayo sempatkan menonton film klasik Indonesia terbaik ini di bioskop kesayanganmu.Jumlah penonton #LewatDjamMalam di XXI (Ciwalk dan Plaza Senayan) sampai kemarin: 2.204. Siapa lagi yang belum menonton?
— Totot indrarto (@pakde) July 2, 2012
Terbitnya Buku dan Video "Lewat Djam Malam Diselamatkan"
Bersamaan dengan peluncuran hasil restorasi film Lewat Djam Malam 18 Juni 2012 kemarin, terbit pula buku Lewat Djam Malam Diselamatkan, sebagai referensi perihal karya Usmar Ismail tahun 1954 tersebut serta proses restorasinya. Buku ini kini tersedia online dan bisa diunduh gratis.
Buku Lewat Djam Malam Diselamatkan terdiri dari tiga bagian. Bagian pertamamerinci kenapa restorasi film ini harus dilakukan dan bagaimana proyek ini dieksekusi melalui kerja sama berbagai institusi lintas negara. Bagian kedua bicara tentang film Lewat Djam Malam itu sendiri. Ada satu tulisan yang menjelaskan posisi Usmar Ismail dalam perfilman Indonesia, wawancara Misbach Jusa Biran tentang film Lewat Djam Malam dan proses penciptaannya, serta resensi dari dua penonton generasi sekarang. Bagian ketiga menjelaskan tentang kondisi film di arsip Sinematek sekarang dan bagaimana publik bisa terlibat membantu Sinematek ke depannya melalui program Sahabat Sinematek.
Selain buku, publik juga bisa mengakses video singkat yang membandingkan kualitas gambar Lewat Djam Malam sebelum dan sesudah direstorasi.
Sumber: Filmindonesia.or.id
"Lewat Djam Malam" Diselamatkan: Masih Mungkin Berharap ke Pemerintah?
Martin Scorsese, sutradara Goodfellas dan Hugo, memuji, "Lewat Djam Malam is revealing."Scorsese, dalam video pengantar pemutaran restorasi Lewat Djam Malam, bersikeras menyebut"Lewat Djam Malam" dan bukannya "After the Curfew", judul Inggris yang lebih mudah di lidahnya. Ia juga benar menyebutkan "Usmar Ismail", sebagai sutradara film itu, walau terpeleset menyebut "Arzil Sani" untuk Asrul Sani sebagai penulis skenario film tersebut.
Video pengantar dari Scorsese itu diputar pada Senin malam, 18 Mei 2012, pukul 19.00 WIB, di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Jakarta, dalam acara bertajuk "Lewat Djam Malam: Diselamatkan". Lima puluh delapan tahun setelah film itu dibuat,Lewat Djam Malam selesai direstorasi (diperbaiki, disempurnakan kembali). Segera saja, hasil restorasi itu diputar gala dunia, di Festival Film Cannes 2012 pada 17 Mei 2012 lalu. Seperti diungkap Scorsese, yang juga pemrakarsa World Cinema Foundation, Lewat Djam Malam diakui sebagai warisan "sinema dunia".
Video pengantar dari Scorsese itu diputar pada Senin malam, 18 Mei 2012, pukul 19.00 WIB, di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Jakarta, dalam acara bertajuk "Lewat Djam Malam: Diselamatkan". Lima puluh delapan tahun setelah film itu dibuat,Lewat Djam Malam selesai direstorasi (diperbaiki, disempurnakan kembali). Segera saja, hasil restorasi itu diputar gala dunia, di Festival Film Cannes 2012 pada 17 Mei 2012 lalu. Seperti diungkap Scorsese, yang juga pemrakarsa World Cinema Foundation, Lewat Djam Malam diakui sebagai warisan "sinema dunia".
"Lewat Djam Malam" Telah Rilis sejak 18 Juni 2012

"Hasil restorasi dan digitalisasi film itu 90 persen mendekati aslinya," kata Direktur Utama Sinematek Indonesia, Berthy Ibrahim, dalam jumpa pers penyelamatan Film "Lewat Djam Malam" di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI) Jakarta, Senin.
Rangkaian film yang diproduksi pada 1954 itu akan diputar di jaringan bioskop 21 Cineplex dan Blitzmegaplex di sejumlah kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya mulai 21 Juni.
Film "Lewat Djam Malam": Manusia Indonesia Pasca Revolusi
Mulai 21 Juni, karya Bapak Perfilman Indonesia Usmar Ismail 'Lewat Djam Malam' (1954) yang telah direstorasi diputar di bioskop di Jakarta dan Bandung. Sebelumnya, film ini telah diputar di National Museum of Singapore, dan di sesi Cannes Classics di Festival Film Cannes, Prancis, Mei lalu.
Film ini menampilkan bintang yang terkenal saat itu, Bambang Hermanto sebagai salah satu pemeran pendukung. Adapun peran utama dipercayakan kepada aktor bernama AN Alcaff dan aktris bernama Netty Herawati. Pemeran pendukung lainnya adalah aktris bernama Dhalia yang menjadi pencuri perhatian di film ini.
Film ini menampilkan bintang yang terkenal saat itu, Bambang Hermanto sebagai salah satu pemeran pendukung. Adapun peran utama dipercayakan kepada aktor bernama AN Alcaff dan aktris bernama Netty Herawati. Pemeran pendukung lainnya adalah aktris bernama Dhalia yang menjadi pencuri perhatian di film ini.
"Lewat Djam Malam" Bisa Ditonton 21 Juni
Setelah melalui proses restorasi selama 1,5 tahun di Italia, film Lewat Djam Malam karya sineas Usmar Ismail (1954) akhirnya bisa dinikmati publik di negeri sendiri.
Mulai 21 Juni, film tersebut akan diputar di jaringan bioskop 21 Cineplex dan Blitzmegaplex di beberapa kota di Indonesia, seperti Makassar, Surabaya, Bandung, dan Jabodetabek.Pemutaran film Lewat Djam Malam ini merupakan upaya para pencinta film untuk menarik minat publik terhadap pelestarian artefak film yang tersimpan di Pusat Informasi dan Dokumentasi Film (Sinematek) Indonesia. Alex Sihar dari Komite Film Dewan Kesenian Jakarta, yang juga Ketua Yayasan Konfiden, dalam jumpa pers di Pusat Perfilman H Usmar Ismail mengatakan, restorasi film Lewat Djam Malam diharapkan bisa membuka mata para pemangku kepentingan di Indonesia tentang pentingnya arsip film bagi kehidupan sejarah bangsa. Restorasi film Lewat Djam Malam ini dibiayai National Museum of Singapura (NMS) dan World Cinema Foundation yang didirikan sineas dunia Martin Scorsese. Sebelum diputar di Indonesia, film Lewat Djam Malam lebih dulu diputar di Festival Film Cannes, 17 Mei lalu. Film tersebut terpilih dalam kategori World Classic Cinema.
Subscribe to:
Posts (Atom)





