Wajah Indonesia Dalam Film "Lewat Djam Malam"


Lewat Djam Malam adalah sebuah film yang ditulis oleh Asrul Sani dan disutradarai Usmar Ismail. Film yang diproduksi pada tahun 1954 ini berhasil meraih penghargaan sebagai Film Terbaik FFI pada tahun 1955. Film ini sangat recommended untuk ditonton. Walau hitam putih, kualitas gambar film yang memang sudah direstorasi ini cukup bagus. Mengingat film ini dibuat 58 tahun yang lalu, tentunya teknologi tak sehebat sekarang.

Iskandar (AN Alcaff) adalah mantan mahasiswa sebuah universitas di Bandung yang ikut turun ke medan perang untuk memperjuangkan kemerdekaan. Selama 5 tahun, Norma (Netty Herawati), kekasih Iskandar dengan setia menanti kembalinya orang yang dia sayangi. Sosok Norma sendiri adalah putri seorang terpandang, tinggal di sebuah rumah mewah dan hidup berkecukupan. Sekembalinya Iskandar dari gunung, ia pun menumpang di rumah Norma.

Hari pertamanya di Bandung, Iskandar sudah membuat masalah. Sementara sang kekasih, Norma pergi bersama sang kakak untuk berbelanja keperluan pesta di Braga, Iskandar pergi meninggalkan kantor guberbur tempatnya bekerja menuju tempat kerja Gafar (Awaludin) , sahabat seperjuangan saat di medan perang. Gafar yang lebih dulu kembali ke kota, kini telah menjadi seorang pemborong. Ia membangun gedung sekolah dan perumahan rakyat.

"Lewat Djam Malam" di Festival Il Cinema Ritrovato Bologna

Restorasi film Lewat Djam Malam dijadikan studi kasus dalam program pendidikan restorasi film yang diadakan oleh federasi arsip film internasional (FIAF) di Bologna, Italia, pada Sabtu 30 Juni 2012 di Sala Cervi, Fondazione Cineteca di Bologna. Acara ini dilangsungkan sebagai bagian dari Film Restoration Summer School/FIAF Summer School 2012.

Cecilia Cenciarelli, kepala Chaplin Project di arsip film Cineteca di Bologna, bertindak sebagai moderator dalam panel ini dan menyebut proyek restorasi karya Usmar Ismail ini sebagai contoh sempurna kerjasama para pecinta film. ”Proyek restorasi Lewat Djam Malam menunjukkan bahwa para individu pecinta film lintas negara punya kekuatan untuk menggerakkan penyelamatan warisan sinema dunia,” kata Cenciarelli dalam sambutan pembukaannya. Ia juga menegaskan bahwa kasus proyek restorasi ini membuktikan bahwa restorasi film tidak hanya bisa dilakukan oleh institusi arsip pemerintah atau produsen film papan atas, tapi juga oleh sekumpulan pecinta film.

Panel studi kasus restorasi film Lewat Djam Malam diisi oleh Zhang Wenjie (National Museum of Singapore), Lintang Gitomartoyo (Yayasan Konfiden), Lisabona Rahman (mahasiswa preservasi film di Belanda), Douglas Laible (World Cinema Foundation) dan Davide Pozzi (L’immagine Ritrovata). Masing-masing narasumber menceritakan perjalanan proyek restorasi film produksi Indonesia tahun 1954 ini dari berbagai sudut pandang, mulai dari soal jaringan persahabatan para pelakunya, pentingnya proyek ini untuk sejarah sinema dunia, dan aspek teknis restorasi untuk dijadikan contoh bagi para pelaku restorasi film. 

Akumulasi Jumlah Penonton "Lewat Djam Malam" (Update 2 Juli 2012)

Sebagaimana dikabarkan oleh kritikus film Totot Indrarto lewat akun twitternya, jumlah penonton film "Lewat Djam Malam" dari jaringan XXI (21 Cineplex) sudah diumumkan mencapai 2.204 penonton. Ayo sempatkan menonton film klasik Indonesia terbaik ini di bioskop kesayanganmu.